Kerisis Kepemimpinan Indonesia

DPR adalah Dewan perwakilan rakyat. Para pemimpin yang berdiri atas nama rakyat. Suara yang dibawa adalah suara rakyat. Menjadi seorang pemimpin sudah selayaknya bertanggungjawab atas rakyatnya. Pemimpin haruslah berani lapar sebelum rakyatnya dan kenyang setelah rakyatnya. Itulah hakikat pemimpin, ia menjadi pengayom, pelindung, pembela dan pelayan rakyatnya. Sejenak kita berkaca pada wajah DPR Indonesia, tak ada sifat kepemimpinan dalam diri mereka. Mereka hanyalah seorang pimpinan tanpa memiliki sifat pemimpin. Ia hanya mempunyai kekuasaan tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk mengelola kekuasaan itu sesuai dengan jalannya. Akhirnya ia mengelola hanya utuk penuhi perut sendiri.

Mereka mengajukan diri sebagai DPR bermodalkan ketenaran mereka, semakin tenar ia semakin mudah untuk menjadi DPR, entah itu tenar keburukannya entah itu tenar kelicikannya. Dimana rasa malu mereka sembunyikan?? Diawal pencalonan sejuta janji diumbar, sejuta program rakyat didengungkan, namun setelah merasakan empuknya kursi DPR mereka terlena hingga tertidur saat rapat, tak hanya itu menghabiskan milyaran uang rakyat hanya untuk perbaiki WC, seberapa pentingnya WC DPR dibandingkan nyawa rakyat yang terancam mati karena kelaparan?? Apakah tidak malu pada tembok yang menyaksikan tingkah konyol mereka setiap hari?? Apa kontribusi mereka untuk menyejahterakan rakyat hingga mereka tega melahap nyawa rakyat jelata?? Besar manakah jasa mereka dibandingkan petani yang bercucuran keringat memenuhi kebutuhan pangan bangsa, mereka hanya duduk, membuat undang – undang yang mematikan rakyat pribumi, undang – undang yang membuncitkan perut mereka.

Siapa yang akan mengurusi nasib rakyat kecil?? Jika pemimpin yang mereka pilih perlahan menyingkirkan mereka. Rakyat tidak butuh pemimpin yang mempunyai sejuta janji tanpa realiti, rakyat tak butuh pemimpin yang terkenal bak artis papan atas namun hanya bermanis dimulut saja. Rakyat butuh pemimpin yang mampu memimpin bukan seorang pimpinan. Yang dapat mengerti kebutuhan mereka, mendengarkan keluhan dan memberi solusi, mengayomi layaknya seorang raja nan bijaksana, melindungi layaknya seorang bapak terhadap anaknya.

Untuk dapat menjadi seorang pemimpin sejati haruslah dapat menguasai diri sendiri, berbekal akan pondasi yang kuat yaitu mempunyai sifat jujur, disiplin, dan tidak egois. (Erie Sudewo: Character Building) Dengan mengalahkan nafsu dalam diri ia tidak akan mudah digiurkan oleh kepentingan pribadi. Ia akan jauh memikirkan rakyat.

Seorang pemimpin adalah yang lebih dari orang yang dipimpin, namun bukan lantas ia merasa lebih dan menganggap rendah orang yang dipimpin. Ia harus lebih sabar dari yang dipimpin. Ia harus lebih tahu daripada yang dipimpin. Ia harus lebih bijaksana dari yang dipimpin. Untuk menjadi orang yang lebih ini seseorang harus memiliki sifat unggulan diatas 3 sifat dasar, yaitu ikhlas, sabar, bersyukur, tanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh – sungguh. (Erie Sudewo) Ikhas membuat seorang pemipin bekerja tanpa pamprih didunia, ia tak mengharapkan imbalan apa – apa keculia telah meniatkan karena Allah, bertanggung jawab senantiasa memenuhi kewajiban dan takut akan dimintai pertanggungjawabannya kelak atas kepemimpinannya. Sifat – sifat ini lah yang jika dimiliki kemudian diaplikasikan akan melahirkan jiwa kepemimpinan.

Itulah pribadi yang yang menjadi bibit – bibit pemimpin masa depan. Namun belum cukup sampai disini untuk menjadi seorang pemimpin. Bibit itu harus sudah tumbuh mengakar dengan kuat dalam hati kemudian melahirkan cabang – cabang karakter pemimpin sejati. Setidaknya ada sembilan sifat pemimpin yang harus terpenuhi sebelum mengenyam tahta tertinggi, yaitu adil dalam memberikan pelayanan kepada rakyat, adil tidak hanya dilitah dari kuantitasnya saja yang sama rata sama rasa, namun juga memperhatikan keterbutuhan dan kepentingan, arif, ksatria, rendah hati, sederhana, komunikatif dalam menyampaikan gagasan ataupun perintah, visioner dalam mencapai tujuan kesejahteraan rakyat, solutif menghadapi masalah yang ada dan inspiratif pada yang dipimpin, dapat menjadi teladan. (Erie Sudewo)

Memang susah untuk memilih pemimpin, berbanding terbalik dengan memilih pimpinan. Karena seseorang belum dapat diketahui kepemimpinannya sebelum ia menjadi pemimpin. Apalagi seorang pemimpin sejati ia adalah sosok yang rendah hati, ia tidak akan meminta amanah apalagi gila kedudukan.

Begitu pentingnya kedudukan pemimpin ini, maju mundurnya suatu pasukan ditentukan oleh pemimpinnnya. Seperti perumpamaan bahwa segerombolan singa yang dipimpin oleh domba akan dapat dikalahkan oleh segerombolan domba yang dipimpin singa. Dan yang akan menjadi luar biasa lagi jika segerombolan singa yang dipimpin oleh singa. Sumber daya yang terbatas ditangan pemimpin sejati dapat diubah menjadi kekayaan dan kesejahtaraan yang melimpah. Namun sumberdaya yang melimpah ditangan pimpinan yang tidak berkarakter akan meninggalkan cerita kehancuran dilumbung padi sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Erry Riyana Hardjapamekas (mantan ketua KPK) bahwa “ Karakter bangsa sangat tergantung pada keteladanan para pemimpin, yang sejatinya muncul secara alami, sering kali spontan, dan menghasilkan citra. Bukan merancang citra seolah spontan, seakan alami, namun tak asli.”

Inilah penyakit yang menggerogoti bangsa Indonesia tercinta ini. kepemimpinan yang ada penuh dengan imitasi. Kepura – puraan yang semakin tercium akal bulusnya. Bangsa yang besar rapuh karena pemiliknya sendiri. Betapa tidak bersyukurnya pejabat korup bangsa Indonesia ini. diberikan surga dunia yang segalanya ada di Indonesia, namun dengan serakah perut – perut tertentu melahapnya sendiri, bahkan melahap perut – perut kecil agar tidak meminta bagian.

Sosok pemimpin sejati yang memperjuangkan nasib rakyat sangat dirindukan di negeri yang sedang terkapar lemah ini. Pemimpin yang membawa misi rakyat, dipilih oleh rakyat karena kapasitas dan kapabilitasnya, bukan keahliannya bermain peran. Mngembalikan semua kebijakan untuk rakyat. Diambil dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selama ini jargon ini memang deras dikumandangkan namun baru sebatas manisnya lidah yang tak bertulang.

Rakyat tak butuh janji namun bukti. Rakyat tidak menerima alasan kelalaian namun laporan sejauh mana ia bertindak. Merdekalah Indonesia Raya dari segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan oleh bangsa itu sendiri. Untuk memperbaiki bangsa maka tidak cukup dari bawah, sisi rakyat saja, namun dari sisi pemimpin harus diperbaharui dan diperbaiki.

YAKIN BISA ……… PASTI BISA ……INDONESIA RAYA JAYA TUK SELAMANYA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s